Kamis, April 21, 2005

Osmose Budaya, Kartini dan Kreativitas Sastra, Oleh Endang Susanti Rustamaji

DALAM benak sebagian besar manusia Indonesia, ada anggapan dasar yang cenderung negatif dalam menilai sikap Belanda terhadap warga jajahannya. Mereka mengira, bangsa penjajah selalu jahat dan VOC dibentuk di negeri ini hanya semata-mata profit-oriented, sehingga segala aktivitas mereka bermuara pada kepentingan ekonomi. Seolah-olah persoalan kebudayaan sama sekali tidak mendapat perhatian. Padahal, anggapan tadi tidak sepenuhnya benar.
Mencermaati kembali catatan sejarah, akan kita temukan serangkaian fenomena mencengangkan dalam terminologi kebudayaan. Pada September 1901, Ratu Wilhelmina menegaskan dalam pidato pembukaan Parlemen Belanda, bahwa pemerintah Belanda mempunyai panggilan moral terhadap bangsa pribumi di Hindia Belanda. Pidato itu terinspirasi oleh puisi karya Rudyard Kipling yang berjudul The White Man’s Burden, yang diciptakan dua tahun sebelumnya (1899).

Lebih lanjut, Ratu Wilhelmina menuangkan panggilan moral tadi ke dalam kebijakan politik etis. Dalam praktiknya, kebijakan tadi telah menghasilkan perbaikan sistem pendidikan untuk bangsa kita serta usaha-usaha untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa pribumi, seperti misalnya pembuatan irigasi, pendirian bank-kredit untuk rakyat, subsidi untuk industri pribumi dan kerajinan tangan. Sementara itu, dalam masyarakat telah terjadi semacam osmose atau pertukaran mental antara orang-orang Belanda dan orang-orang Indonesia. Orang Indonesia memasuki kalangan pergaulan Eropa, demikian pula sebaliknya, ada orang Eropa berjumpa dengan orang Indonesia, sehingga tidak terkunci dalam kalangannya sendiri yang hanya berkisar pada laba dan kuasa.
Kalangan etisi merasa prihatin terhadap nasib kaum pribumi yang mendapatkan diskriminasi sosial-budaya dan mereka ingin membebaskannya. Untuk mencapai tujuan tersebut, mereka berusaha menyadarkan kaum pribumi agar melepaskan diri dari belenggu feodal dan mengembangkan diri menurut model Barat, yang mencakup proses emansipasi dan menuntut pendidikan ke arah swadaya.
Salah satu tokoh perintis haluan etis, adalah Mr Pieter Brooshooft (1845 - 1921), seorang wartawan dan sastrawan. Tahun 1887 Brooshooft mengadakan perjalanan mengelilingi Pulau Jawa, lalu menuliskan laporan tentang keadaaan yang sangat menyedihkan di Hindia Belanda akibat beleid pemerintah. Dia menyampaikan laporan tadi kepada 12 tokoh Belanda terkemuka, disertai lampiran setebal%

Tidak ada komentar:

Popular Posts